<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Arakata Nanggroe &#187; RUMOH TANGGA</title>
	<atom:link href="http://tengku-muda.com/category/rumoh-tangga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tengku-muda.com</link>
	<description>Merangkai Kata Mencari Makna</description>
	<lastBuildDate>Sun, 28 Apr 2013 07:11:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>KTP Merah Putih</title>
		<link>http://tengku-muda.com/2009/11/28/ktp-merah-putih/</link>
		<comments>http://tengku-muda.com/2009/11/28/ktp-merah-putih/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 13:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muda</dc:creator>
				<category><![CDATA[EDUCATION]]></category>
		<category><![CDATA[PEH T'EM]]></category>
		<category><![CDATA[RUMOH TANGGA]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Darurat Militer]]></category>
		<category><![CDATA[KTP Metah Putih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arakata.blogdetik.com/2009/11/28/ktp-merah-putih/</guid>
		<description><![CDATA[“Tengku masih menyimpan KTP Merah Putih ? bisa ceritakan sedikit tentang KTP Merah Putih ?“. Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang teman dari Bandung beberapa hari yang lalu ketika kami sedang ngobrol di Yahoo Messenger, beliau sedang mengerjakan proyek Penelitian BAPENAS tentang Kartu Tanda Penduduk. Sebenarnya saya tidak ingat lagi dengan KTP Merah Putih dan beberapa [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">“Tengku masih menyimpan KTP Merah Putih ? bisa ceritakan sedikit tentang KTP Merah Putih ?“. Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang teman dari Bandung beberapa hari yang lalu ketika kami sedang ngobrol di Yahoo Messenger, beliau sedang mengerjakan proyek Penelitian BAPENAS tentang Kartu Tanda Penduduk. Sebenarnya saya tidak ingat<span> </span>lagi dengan KTP Merah Putih dan beberapa KTP Merah Putih yang saya miliki juga sudah saya buang, setelah saya coba bongkar berkas-berkas dokumen akhirnya saya menemukan beberapa KTP, satu diantaranya adalah KTP Merah Putih yang terakhir saya miliki tapi tidak saya pakai. Saya masih ingat sejak diberlakukan KTP Merah Putih di Aceh saya sempat menyandang 3 KTP Merah Putih yang terpaksa saya buat karena tuntutan suasana konflik bersenjata di Aceh.<img class="aligncenter size-full wp-image-195" src="http://arakata.blogdetik.com/files/2009/11/ktpmp21.jpg" alt="ktpmp21" width="390" height="233" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">KTP Merah Putih adalah Kartu Tanda Penduduk yang diberlakukan untuk masyarakat Aceh ketika berlakunya status Darurat Militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. KTP ini dimaksudkan untuk menyisir habis anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Tidak jauh berbeda KTP Merah Putih ini dengan KTP biasa yang memuat indentitas Pemiliknya, tapi sedikit keunikan. Dari segi ukuran KTP Merah Putih<span> </span>dua kali lebih besar dari KTP biasa sehingga harus dilipat dua dan berbentuk seperti buku saku. Dan yang lebih unik bila KTP biasa hanya ditanda-tangani oleh satu pejabat berwenang, KTP Merah Putih ditandatangani oleh tiga pejabat yaitu dari Kepolisian (KAPOLSEK), dari TNI (DANRAMIL) dan Kecamatan (CAMAT)…… unik kan ? satu KTP dikeroyok rame-rame !<span id="more-191"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Mengurus KTP Merah Putih juga bukan perkara yang mudah, harus melalui proses yang sangat –sangat – sangat…ribeeet…. Bahkan nyawa jadi taruhan !!!&#8230;.loh kok bisa seperti itu ? ya begitulah kondisi berada di daerah konflik. Kenapa bisa seseram itu ? begini ceritanya ;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Pertama kita harus mengambil Surat Pengantar dan Blangko yang sudah diisi di Kepala Desa, kemudian Blangko KTP Merah Putih beserta Surat pengantar dibawa ke Kantor Polisi setempat (POLSEK), di POLSEK kita harus menunggu antrian yang sangat-sangat panjang. setelah dipanggil kita langsung berhadapan dengan KAPOLSEK untuk di intograsi (…… kita dibuat kayak penjahat)…….. kalau tidak salah ingat ada 10 pertanyaan yang harus kita jawab… mulai dari menyebutkan 5 sila PANCASILA… terus menyanyikan lagu<span> </span>Indonesia Raya….. (kayak mau upacara bendera)… setelah itu baru masuk kepertanyaan intograsi-intograsi…..seperti ; Apa pernah bertemu dengan si Polan ? (maksudnya anggota GAM), Kenal dengan si anu ?, rumahnya dekat gak dengan si A ?, Pernah kasih rokok untuk si anu ?&#8230;&#8230;&#8230;. kalau saja tidak bisa menjawab dengan manis…siap-siap saja popor senapan akan melayang ke muka kita…tidak kenal siapa saja…mau orang tua….anak muda….. bahkan ibu-ibu yang dicurigai ketika intograsi akan mendapatkan minimal tamparan dari si aparat Kepolisi.<img class="aligncenter size-full wp-image-196" src="http://arakata.blogdetik.com/files/2009/11/ktpmp1.jpg" alt="ktpmp1" width="355" height="241" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Setelah lolos dari intograsi biadab itu…., nama kita akan diperiksa di Daftar Pencarian Orang (DPO), setidaknya orang yang namanya mirip dengan nama anggota GAM akan mendapat masalah besar. Bila di curigai….berkas kita akan ditahan…tidak sedikit juga yang terpaksa menginap dalam tahanan sampai berminggu-minggu, bahkan ada yang tidak pernah kembali lagi sampai hari ini….!…. Bisa anda bayangkan sendiri kalau sudah ditahan… setiap malam akan terus jadi bulan-bulanan aparat-aparat polisi yang tidak punya rasa kemanusiaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Kalau kita dianggap bersih maka KTP akan ditanda-tangan oleh KAPOLSEK. Tapi jangan berbesar hati dulu, karena<span> </span>kita akan menghadap KORAMIL setempat untuk diintograsi tahap kedua dengan model yang sama dan juga diperiksa di DPO. Yang gilanya DPO yang dipegang Kepolisian berbeda dengan DPO yang ada di TNI. Bila lulus baru ditandatangan dan kemudia KTP baru dibawa ke Kecamatan untuk di tandatangan CAMAT dan di stempel, dan sah lah kita menyandang KTP Merah Putih.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Pengalaman saya mengurus KTP Merah Putih Alhamdulillah berjalan lancar. Walaupun nama saya ada di DPO tapi bukan nama asli, hanya nama panggilan orang-orang dikampung saya yang tidak pernah tau nama asli saya, apalagi dari segi tampang dan postur tubuh yang kecil kerempeng, mereka tak mungkin mencurigai saya sebagai pemberontak. Tapi KTP Merah Putih saya yang pertama tidak bisa dipergunakan lama, 2 bulan setelah itu saya pindah lokasi ke Kabupaten lain dan ini sangat berbahaya bila kita berkediaman <span> </span>disuatu daerah dengan KTP Merah Putih daerah lain, banyak kesulitan yang akan kita temui dan untuk mengurus mutasi juga tidak mungkin kita bunuh diri karena kita kembali harus melawati tahap-tahap proses KTP Merah Putih yang mengerikan itu. Saya terpaksa membuat KTP Merah Putih ASPAL…. Blangko KTP Merah Putih yang sudah jadi diberikan oleh seseorang yang kebetulan pemiliknya sudah hijrah ke Negara lain. Bermodalkan uang logam, nama di KTP tersebut berhasil dikikis dan diprint ulang kembali…. (Saya tidak akan melakukan kriminal seperti ini bila tidak terpaksa).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Satu bulan saya memegang KTP Merah Putih ASPAL itu, Alamat di KTP saya dinyatakan sebagai daerah hitam, karena sudah tercium desa tersebut sangat banyak berdiam para gerilyawan GAM. Dan hukum yang ada pada saat itu apabila sudah dinyatakan sebagai daerah hitam oleh TNI maka semua masyarakat yang tinggal di desa itu dinyatakan berkhianat kepada Negara dan harus siap-siap menghadapi resiko. Dengan bermodal KTP Merah Putih Pertama saya berhasil menyebrang keluar Aceh tampa ada pemeriksaan. Tapi satu bulan sebelum Tsunami melanda Aceh, saya menerima kiriman KTP Merah Putih dari seorang teman. Alhamdulillah dengan KTP Merah Putih saya bisa bergerak dengan tenang di Aceh pasca musibah Tsunami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Sesuai dengan yang tertera di KTP Merah Putih, masa berlakunya adalah bila berakhirnya status Darurat Militer. Tapi walaupun<span> </span>Status Darurat Militer sudah dicabut pada pertengahan 2005, tapi KTP Merah Putih masih berlaku sampai tahun 2006 karena keterlambatan pemerintah mengadakan KTP Nasional untuk masyarakat Aceh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Itulah sepenggal kisah KTP Merah Putih yang pernah berlaku di Aceh, banyak kenangan manis, pahit dan kadang lucu selama memegang KTP Merah Putih. Bila keluar dari Aceh lewat darat, diperbatasan Aceh-SUMUT aka ada pemeriksaan KTP oleh TNI, dan aparat yang jahil itu tidak menyebut KTP, tapi meminta diperlihatkan PASPOR (KTP Merah Putih) sebagai sindiran bagi orang Aceh yang ingin memisahkan diri dari RI. Kalau saya perlihatkan KTP Merah Putih keteman-teman di luar Aceh juga ada yang menertawakan….KTP kok mirip Buku Nikah…..Semoga tulisan ini menjadi pelajaran yang berharga…. Atau menjadi gambaran bila didaerah teman-teman akan diberlakukan Status Darurat Militer….. siapa tau……? kan persoalan Negera ini belum selesai…..he…he..he.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tengku-muda.com/2009/11/28/ktp-merah-putih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Derita Putri Pengembala</title>
		<link>http://tengku-muda.com/2009/07/03/derita-putri-pengembala/</link>
		<comments>http://tengku-muda.com/2009/07/03/derita-putri-pengembala/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 09:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muda</dc:creator>
				<category><![CDATA[RUMOH TANGGA]]></category>
		<category><![CDATA[aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh Besar]]></category>
		<category><![CDATA[bantu]]></category>
		<category><![CDATA[BRR]]></category>
		<category><![CDATA[Gadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Nias]]></category>
		<category><![CDATA[Nurjannah]]></category>
		<category><![CDATA[Peduli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arakata.blogdetik.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Bola matanya nanar, menatap dari balik jendela kamar berdiamer 3×3 itu. Di atas dipan yang mengeluarkan bau pesing, gadis yang kaki dan badanya mengecil ini, hidup serba memprihatinkan. Dia hanya bisa membolak-balikan badanya, seolah mengharap iba. 21 tahun lalu, menjelang magrib, Muhammad Dehan, pulang dari mengembala ternak dan memotong rumput. Pria yang kini berusia 64 [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]--><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">Bola matanya nanar, menatap dari balik jendela kamar berdiamer 3×3 itu. Di atas dipan yang mengeluarkan bau pesing, gadis yang kaki dan badanya mengecil ini, hidup serba memprihatinkan. Dia hanya bisa membolak-balikan badanya, seolah mengharap iba. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot"><img class="aligncenter" src="http://www.acehkita.com/wp-content/uploads/2009/06/_fi_0587bw-copy1.jpg" alt="" width="364" height="243" /></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">21 tahun lalu, menjelang magrib, Muhammad Dehan, pulang dari mengembala ternak dan memotong rumput. Pria yang kini berusia 64 tahun itu, mendapati Nurjannah, putri pertamanya, kejang-kejang. menjelang siang, rumahnya didatangi petugas kesehatan dan menyuntikkan vaksin tetanus ke tubuh Nurjanah.<span id="more-156"></span></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">“Waktu itu usia Nurjannah masih empat bulan, dia kejang-kejang sampai dua hari dua malam, kami tidak punya biaya membawanya ke dokter,” kata warga Desa Lamtimpeung, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar itu, Selasa, 30 Juni 2009.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">Selama itu, Nurjanah tidak pernah mendapatkan bantuan medis. Orang tuanya hanya beberapa kali membawanya berobat kepada dukun kampung. Hasilnya nihil. Nurjanah tidak bisa menikmati masa kecilnya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">“Saya jual tiga ekor lembu untuk mengobati dia, tapi dia tidak juga sembuh, kami tidak punya saudara yang bisa membantu biaya pengobatan dia,” katanya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">Kondisi fisik Nurjannah kian hari kian melemah. Tubuhnya mengecil dan kulitnya melepuh. Di usia 13 tahun, derita keluarga Nurjannah lengkap sudah. Ibunya harus meninggalkan dia dan dua adik laki-lakinya, karena serangan penyakit paru-paru.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">“Sejak saat itu saya tidak bisa bekerja lagi. Dia tidak mau makan kalau tidak saya yang suapin, dia tidak mau diurus sama orang lain,” sebut Dehan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">Untuk mengurangi beban keluarga, Dehan terpaksa menitipkan dua putranya kepada adiknya. Sejak tak bekerja, Dehan hanya mencurahkan perhatiannya untuk putri tunggalnya itu. Memandikannya setiap pagi, dan mengatur menu makanan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">Jika Nurjanah lapar, dia hanya memberikan isyarat dengan membuka lebar mulutnya. Dehan yang tak bisa memasak, hanya membeli nasi sebungkus untuk berdua. Kecuali ada tetangga yang berbaik hati menghantarkan makanan, pengembala ini tak perlu sibuk berhutang.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">“Saya tidak akan membiarkan dia lapar, yang paling repot kalau dia buang air, karena dia tidak pernah memberi isyarat.”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">Nasib keluarga Nurjannah sebenarnya juga telah didengar Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Pertengahan tahun 2005, pekerja lembaga itu membawa Nurjannah untuk berobat di rumah sakit Zainoel Abidin Banda Aceh. Tapi dia tak pernah di diaknosa.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">“Selama tiga hari tidak pernah ada dokter yang memeriksa anak saya, tidak tahu penyakitnya apa, akhirnya saya membawa pulang dia,” sebutnya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">Berkat ajuran beberapa orang dikampungnya, Dehan membuat proposal bantuan kepada pemerintah Aceh. Tapi hingga kini dana bantuan, juga belum cair. Dehan berharap ada yang sudi membatu pengobatan putrinya. “Saya tidak punya penghasilan, kalau pemilik lembu menjual lembunya, saya baru dapat sedikit hasil memelihara lembu,” ungkapnya</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">2 Agustus tahun ini, Nurjannah genap berusia 22 tahun. Di usia yang mulai dewasa, dia hanya bisa terbaring lemah tak berdaya, seakan merenunggi nasibnya sebagai putri pengembala.[]</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">Foto : Yo Fauzan Ijazah</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">Tulisan : Riza Nasser</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">Kami dari redaksi Acehkita.com membuka dompet peduli untuk membantu Nurjannah.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">Bagi anda yang ingin menyalurkan bantuan bisa melalui rekening kami di:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot"><br />
8040020145</span><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot"> </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">PERMATA BANK CABANG ACEH</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">a.n. Daspriani Y. Zamzami…</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot"><br />
Baca Selengkapnya :<a title="Aceh Kita Online" href="http://www.acehkita.com/berita/21-tahun-menderita-lumpuh-layu/" target="_blank"><strong><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;color: blue"> AcehKita</span></strong></a></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">Jangan lupa kabari kami setelah menyumbang, melalui:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot"><br />
+628126968257</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">+628126964923<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--></span><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot"> <!--[endif]--></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&#038;quot">e-mail:<br />
redaksi@acehkita.com</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tengku-muda.com/2009/07/03/derita-putri-pengembala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Suami Istri</title>
		<link>http://tengku-muda.com/2008/06/08/renungan-suami-istri/</link>
		<comments>http://tengku-muda.com/2008/06/08/renungan-suami-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 04:41:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muda</dc:creator>
				<category><![CDATA[RUMOH TANGGA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arakata.blogdetik.com/2008/06/08/renungan-suami-istri/</guid>
		<description><![CDATA[lelaki mengbanggakan setiap kesuksesan dan prestasi yang dicapainya, sementara wanita, lebih mendambakan sentuhan dan kehangatan cinta dari pasangannya. lelaki merasa merasa termotifasi, jika senantiasa merasa dibutuhkan oleh pasangannya. sementara wanita akan termotivasi jika mereka dihargai . selalu ada perbedaan yang acapkali mendatangkan kesalahpahaman. untukmu para suami sadarilah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; saat kecemburuan menyergap hati istrimu, bersabarlah untuk memahami [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp2.blogger.com/_TJRaD7IP3Hs/SFJLYTBpOWI/AAAAAAAAAFw/Zj2v3GkIV98/s1600-h/1-2_002.jpg"><img src="http://bp2.blogger.com/_TJRaD7IP3Hs/SFJLYTBpOWI/AAAAAAAAAFw/Zj2v3GkIV98/s320/1-2_002.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<p>lelaki mengbanggakan setiap kesuksesan dan prestasi yang dicapainya, </p>
<p>sementara wanita, lebih mendambakan sentuhan dan kehangatan cinta dari pasangannya.</p>
<p>lelaki merasa merasa termotifasi, jika senantiasa merasa dibutuhkan oleh pasangannya. </p>
<p>sementara wanita akan termotivasi jika mereka dihargai . </p>
<p>selalu ada perbedaan yang acapkali mendatangkan kesalahpahaman. </p>
</p>
<p>untukmu para suami </p>
<p>sadarilah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; </p>
<p>saat kecemburuan menyergap hati istrimu, bersabarlah untuk memahami setiap keinginannya dan lebih mendekatlah padanya. </p>
</p>
<p>untuk para istri </p>
<p>lelaki bisa memahami apa saja kecuali satu hal</p>
<p>terkadang dia membutuhkan ruang perenungan sendiri dimana engkau tidak diizinkan memasuki rauang itu.</p>
<p>mungkin engkau berfikir&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. </p>
<p>suamimu sungguh egois.</p>
<p>ketahuilah</p>
<p>adakalanya suamimu akan berlaku egois</p>
<p>untuk mengukuhkan jati dirinya</p>
<p>dan sesuatu yang sulit dipahami adalah hati wanita.</p>
</p>
<p>Ditulis oleh Salah Seorang Suami Yang Baik </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tengku-muda.com/2008/06/08/renungan-suami-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seulangke</title>
		<link>http://tengku-muda.com/2007/10/23/seulangke/</link>
		<comments>http://tengku-muda.com/2007/10/23/seulangke/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Oct 2007 10:12:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muda</dc:creator>
				<category><![CDATA[RUMOH TANGGA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tengku-muda.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Menurut adat istiadat Aceh, pergaulan anak gadis dengan pemuda sebelum nikah amat tabu meskipun dalam “ikatan pertunangan“, apalagi pacar-pacaran sampai malam hari. Anak gadis diibaratkan boh mamplam dalam oen (buah mangga dalam daun). Ikatan pertunangan adalah proses mekanisme kematangan menuju pernikahan. Sebelum nikah belum halal bersentuhan apalagi seperti suami istri, meskipun sudah bertunangan. Ingat! ”Nikahlah” [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="post_message_37043" style="text-align: justify">Menurut adat istiadat Aceh, pergaulan anak gadis dengan pemuda sebelum nikah amat tabu meskipun dalam “ikatan pertunangan“, apalagi pacar-pacaran sampai malam hari. Anak gadis diibaratkan boh mamplam dalam oen (buah mangga dalam daun). Ikatan pertunangan adalah proses mekanisme kematangan menuju pernikahan. Sebelum nikah belum halal bersentuhan apalagi seperti suami istri, meskipun sudah bertunangan. Ingat! ”Nikahlah” yang menghalalkan hubungan (full-conteks/suami-istri). Bagi adat Aceh, “Agama ngoen adat, lagei zat ngoen sifeut”.</p>
<p>Tahapan pernikahan didahului dengan mengajukan lamaran “meulakee” melalui “seulangke” (penghubung). Amat tabu pemuda melamar langsung pada calon mertua. Bila seulangke berjalan, peran orang tua, keuchik dan imum meunasah/teungku sagoe terlibat langsung. Upacara itu sederhana menurut kemampuan masing-masing dan merupakan elemen perekat dengan memberikan “tanda kong narit/tanda penguat“ kepada calon istri, berupa cincin atau harta benda berharga lainnya. Dengan pertunangan, dapat dipastikan gadis itu sudah dipagari untuk tidak boleh dilamar lagi oleh pemuda lainnya. Orang tua, keuchik/ imeum meunasah menjadi saksi untuk memelihara dan memberikan penga*manannya</p>
<p>Selama “masa pertunangan”, masing-masing pihak dapat memantau dari jarak jauh/dekat tentang perilaku masing-masing termasuk keluarga. Sejak itu, kontak keluarga (hubungan keluarga) kedua belah pihak mulai terjalin. Para calon tidak boleh bergaul bebas, paling-paling hanya dapat mengirim pesan melalui orang-orang yang dipercainya atau melalui hubungan antarkeluarga. Bila salah satu pihak memutuskan hubungan pertunangan (wanprestasi), maka mereka diberikan sanksi sebagai risiko atas kerugian moril. Bila yang memutuskan pemuda (keluarga laki), maka materi yang telah diberikan sebagai pengikat pertunangan, menjadi hak penuh keluarga gadis. Sebaliknya, bila pihak gadis (keluarga gadis) memutuskan, maka didenda sebesar “caram/tanda mata” yang telah diterima pada pertunangan dan wajib mengembalikan caram/tanda mata yang telah diterima saat pertunangan. Jadi, dendanya bukan dua kali, melainkan sekali sebesar yang diterima semula tambah bawaan caram dari pemuda dulu.<br />
Seulangke diperankan oleh seseorang yang berwibawa dan berakhlak mulia, serta terpercaya dalam proses awal penjajakan sampai ke pertunangan, bahkan terlibat langsung sampai ke jenjang pernikahan (walimatul ursy).</p>
<p>Biasanya, peran seulangke itu merupakan salah satu fungsi keuchik dan imeum meunasah, tetapi juga dapat dilakukan oleh orang lain yang berwibawa? Karena itu pada umumnya tugas seulangke melekat pada keuchik dan imeum meunasah. Tetapi untuk seulangke ada hak-hak adat yang melekat pada simbol-simbol bawaan adat yang terjadi dalam pertunangan sesuai dengan adat masing-masing daerah. Mereka perlu dijemput dan diantarkan dengan meninggalkan kepentingan pribadinya. Sebab itu dalam tatanan kehidupan silaturahmi masyarakat, tidak salahnya diberikan sedekah ala kadar menurut kemampuan (ingat tidak mengikat).</p>
<p class="MsoNormal" style="font-style: italic"><span style="font-size:85%">Kupiah_meuketop www.acehforum.or.id</span></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tengku-muda.com/2007/10/23/seulangke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jodoh dan Kedewasaan Kita</title>
		<link>http://tengku-muda.com/2006/05/16/jodoh-dan-kedewasaan-kita/</link>
		<comments>http://tengku-muda.com/2006/05/16/jodoh-dan-kedewasaan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 May 2006 13:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muda</dc:creator>
				<category><![CDATA[RUMOH TANGGA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arakata.blogdetik.com/2006/05/16/jodoh-dan-kedewasaan-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para Muslimah. Kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan &#8220;kreatif&#8221; tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil? Jodoh serasa ringan diucap, tapi [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2524/2982/1600/t55A98E02-9807-46E4-B562-1627C3A46920.jpg"><img src="http://photos1.blogger.com/blogger/2524/2982/320/t55A98E02-9807-46E4-B562-1627C3A46920.jpg" border="0" alt="" /></a>Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para Muslimah. Kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan &#8220;kreatif&#8221; tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?</p>
<p>Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi &#8216;bagian masalah&#8217;, namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri.</p>
<p>Di sini orang berlomba mengajukan &#8220;standardisasi&#8221; calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.</p>
<p>Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, &#8220;Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?&#8221; Memang, ada juga jawaban lain, &#8220;Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja.&#8221; Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.</p>
<p>Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.</p>
<p>Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus<br />
menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.</p>
<p>Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.</p>
<p>Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan?</p>
<p>Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.</p>
<p>Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? &#8220;Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya.&#8221;<br />
(QS Al Baqarah, 286).<br />
Di balik fenomena &#8220;telat nikah&#8221; sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT.</p>
<p>Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada.</p>
<div>Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?</div>
<div> Wallahu a&#8217;lam bisshawaab.</div>
<div></div>
<p> wassalamu&#8217;alaykum wr wb</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tengku-muda.com/2006/05/16/jodoh-dan-kedewasaan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
