Katanya BHINNEKA TUNGGAL IKA… kenapa berisik ?

Di perda Aceh baik sebelum maupun sesudah pemberlakuan Qanun Syariat Islam, dalam kehidupan masyarakat sudah berjalan tradisi yang menjadi norma-norma, diantaranya adalah sbb :

1. Pada hari Jum’at tepatnya pada Jam waktu Shalat Jum’at, semua aktivitas lain dihentikan. Kalau teman-teman dari luar Aceh kebetulan berada di Aceh pada hari Jum’at jangan heran kalau misalnya pada jam Jum’atan akan kelihatan sepi, pasar, pertokoan, kantor, pabrik atau kegiatan pertanian akan tutup/berhenti sebentar pada jam tersebut, ini dilakukan oleh seluruh masyarakat baik yang beragama islam maupun agama lain.
bukan berarti semua orang lak-laki muslim pergi Jum’atan, yang malas dan bandel banyak juga, tetapi minimal mereka-meraka ini tidak berkeliaran diluar Mesjid. Tidak perlu ada pengawasan Satpol PP /Wilayatul Hisbah tentang hal ini.
Seumur hidup saya tidak pernah ada masyarakat yang mengkomplain tradisi ini baik dari Non Muslim apalagi yang Muslim.

2. Masyarakat Nelayan akan libur melaut mulai dari Kamis Malam sampai dengan hari Jum’at dan berangkat melaut lagi setelah waktu Jum’atan (Jum’at Sore). Sampai saat ini saya belum pernah mendengar ada gerakan protes terhadap tradisi ini.

3. Hari Jum’at tidak pernah dipakai untuk acara Pesta Perkawinan di Aceh.

4. Bila ada peristiwa Kematian di suatu Desa, maka semua aktifitas di desa tersebut akan dihentikan sampai dengan selesai acara Pemakaman (di Aceh proses pemakaman tidak memerlukan waktu lama, karena mayarakat Aceh yang Islam punya kewajiban untuk menyegerakan penanganan jenazah sesegera mungkin).

5. Dalam bulan Ramadhan, Warung-warung atau yang menjual makanan akan beroperasi Setelah Shalat Ashar (sekitar jam 16.00 WIB), untuk kegiatan pertokoan yang lain akan tutup ketika masuk waktu Magrib. Akan buka kembali setelah Shalat Tarawih (sekitar Jam 21.30 WIB) . tidak ada pengawasan Satpol PP/Wilayatul Hisbah, kalaupun ada hanya di beberapa ibu kota Kabupaten. Masyarakat baik Muslim atau non Muslim tidak berani melanggar tradisi ini, dan sampai saat ini belum pernah terdengar aksi protes.

6. Mengenai tata cara berpakaian terutama yang Muslimah memang masih kontraversi terhadap standar wajibnya (saya tidak bahas dalil). Tetapi bisa kita pastikan Wanita-wanita di Aceh yang berfikiran “sehat” tidak berani tampil terlalu “norak” didepan umum. Misalnya ke pasar tidak ada yang berani pakai rok mini, celena hotpants, u can see. Karena kalau berani berpenampilan dengan pakaian seperti itu, dia akan kelihat aneh sendiri… nah bagaimana dengan wanita non Muslim yang sudah lama di Aceh, mereka umumnya menyesuaikan, walaupun tidak berJilbab, tetapi mereka tampil tidak norak-norak kali lah.
ini bukan berarti wanita di Aceh sudah shalehah semua, banyak juga yang berjilbab tapi pakaiannya ketat (istilah lagi ngehits : Jilbob), tetapi setidaknya sudah berupaya tampil dengan “standar kepantasan” sesuai dengan tingkat pemahaman masing-masing.

Ada beberapa daerah Kabupaten di Aceh yang mungkin sedikit berbeda seperti yang saya gambarkan terutama di daerah yang berperbatasan dengan Sumatera Utara.

Begitulah kehidupan kami masyarakat Aceh, bukan berarti masyarakat Aceh sudah 100% Islami (karena banyak sekarang yang menunding orang Aceh munafik), tetapi tradisi yang punya nilai ISLAMI sudah berjalan dengan baik disini.

Saya juga pernah ke Bali sebuah daerah yang punya banyak tradisi keHinduan yang kental, secara umum juga tidak ada penolakan dari masyarakat. di Sumatera Barat juga punya tradisi
yang istimewa yang kental adat dan agama. Daerah lain juga pastinya punya tradisi-tradisi yang unik.

makanya kita kadang tidak perlu terlalu berisik.
katanya BHINNEKA TUNGGGAL IKA

wallahu’alam

Trackbacks (0)

  1. No trackbacks yet.

Comments (1)

  1. June 17th, 2016 at 07:05 | #1

    oo meunan ruopajih, ban ulon tuan baca mantong

Leave a Reply





stack