Maaf Ini Sekolah… Bukan Kandang…!

Blogger Hibah Sejuta Buku di Madrasah Ibtidayah Darussalam, Sawang, Aceh Utara

Sabtu 16 Desember 2012,  saya di temani seorang Blogger Aceh Husni Mubarrak dan ananda Dail serta Adi seorang teman yang bersedia menjadi driver bergerak di tengah hujan deras yang sedang menyirami bumi. Jam 07.00 WIB kami meninggalkan kota Juang Bireuen, bergerak ke arah timur, niatnya bisa sampai jam 08.00 WIB di Krueng Mane, untuk sarapan dan ngopi di Warkop Palapa, tapi apa hendak dikata, hujan deras  yang tidak bisa memaksa untuk berlari dengan kecapatan tinggi di jalanan yang licin dan berlubang, acara sarapan dan ngopi pun gagal, jam 9.30 WIB  baru merapat di Krueng Mane.

Tujuan hari ini adalah distribusi  buku dari Program Blogger Hibab Sejuta Buku dan 1blogger1book ke Madrasah Ibtidaiyah Swasta Darussalam di Desa Abeuk-Reuling kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara. Ini lokasi kedua setelah distribusi ke Taman Baca Monprei (baca : Blogger Hibah Sejuta Buku di Taman Baca Monprei Peureulak Aceh Timur).  Lokasi  yang dituju berjarak 6 KM dari Krueng Mane, 5 KM jalanan bisa dikatakan mulus… 1 kilometer lagi tidak ada aspal.

Mendakati lokasi sekolah kami dihadang oleh seorang bapak  yang bersepeda motor dan berbatik, beliau adalah Pak Mansur, sanga Kepala Madrasah yang pagi tadi sempat saya SMS kan rencana keberangkatan kami lokasi dan menyampaikan ciri-ciri kenderaan yang kami tumpangi.

“Jalan masuk ke sekolah berlumpur karena hujan, mobil susah masuk, bukunya kita turunkan disini saja nanti kami angkat ke sekolah”, komentar Pak Mansur ketika kami menanyakan lokasi sekolah. Akhirnya kami sepakat untuk terus melanjutkan perjalanan dengan mobil sampai di lokasi sekolah karena tidak mungkin memanggul 3 kardus buku yang berat perkadusnya cukup lumayan.

Kami memasuki pekarangan Mesjid Desa yang terdiri dari sebuah bangunan semi permanen dan disampingnya terpancang tiang-tiang beton, sepertinya mesjid sedang dibangun. disamping mesjid ada sebuah balai.  Kami di ajak mampir istirahat di Balai itu.  Kami belum melihat sebuat gedung atau bangunan kelas untuk sebuah sekolah di sekitar pekarangan mesjid itu.

Ini sekolah….Bukan Kandang !

“Pak, Sekolahnya mana ?” tanya Husni, seorang blogger Aceh yang ikut dengan saya, karena Husni pun sedang menebar pandangan sambil memegang kamera, ya Husni yang hari ini bertugas sebagai photografer hari ini belum menemukan juga gedung sekolah untuk di Abadikan.

“Itu di gubuk itu ?” Tunjuk Pak Mansur, sambil membalikkan badannya ke arah belakang balai. Kira-kira 200 meter dari tempat kami duduk,  terlihat lah sebuah bangunan dengan 3 pintu dengan total ukuran lebih kurang 12 x 3 M. Kesuluran Bangunan terdiri dari tiang dan anyaman bambu, beratapkan daun rumbia, dari kejuahan saya pastikan bahwa tidak ada lantai semen apalagi ubin keramik dalam ruangan.

Saya teringat bangunan itu persis kandang bebek di belakang rumah saya, yang membedakan dan menandakan bahwa bangunan itu bukanlah kandang, hanya sebuah tiang yang diujung berkibar sang Merah Putih dan sebuah papan nama indentitas sekolah, sebuah pentungan tergantung di depan “kelas”, mungkin itu fungsinya untuk bel (lonceng).

“ah yang beutoi pak ?(yang benar pak)” celutuk Adi dalam bahasa Aceh dengan tidak yakin itu adalah sekolah. kami masih menyimpan rasa penasaran ketika kami hendak beranjak mendekati bangunan itu, seoarang bapak yan bertubuh gempal datang menghampiri kami, beliau adalah Pak Dahlan Harun, beliau adalah Kepada Desa  Abeuk Reuling, yang juga merangkap sebagai Ketua Komite Sekolah. Sebuah ucapan selamat dan terimakasih yang hangat meluncur dari kata-katanya atas kedatangan kami ke desanya.

“Hari ini sekolah terpaksa diliburkan karena hujan lebat, jalan berlumpur yang tidak mungkin anak-anak bisa datang, apalagi pada guru yang bukan penduduk disini”, jelas Dahlan, ketika kami tanyakan perihal ada beberapa anak-anak berseragam pramuka merapat ke balai tempat kami duduk. Hanya 5 orang siswa kelas III , dan 2 orang guru yang hadir hari ini.

Walaupun Sekolah Gubuk, Kurikulum tetap sama dengan dengan Sekolah “Gedung”

Pak Mansur dan Pak Dahlan bercerita panjang lebar mengenai sejarah pendirian sekolah ini, ide awal mendirikan sekolah ini karena anak-anak di desa Abuek Reuling malas untuk bersekolah karena di desa mereka tidak ada sekolah, SD terdekat berada di desa tetangga yang berjarak 5 KM dengan menempun jalan kaki, suatu yang berat bagi anak-anak usia SD untuk menempuh perjalan itu setiap hari. Pak Mansur dan Pak Dahlan mengajak masyarakat setempat untuk mendirikan sekolah di desa meraka. Berapa orang warga bersedia menghibahkan tanahnya untuk didirikan sekolah, dengan kerja gotong royong masyarakat tanpa “campur tangan pihak pemerintah” berdirilah 3 kelas belajar type “gubuk” itu.

Pihak Sekolah sudah berapakali mengujukan permohonan ke pemerintah daerah setempat, baik melalui Dinas Pendidikan maupun Departemen Agama, tapi sampai sekarang belum ada niat dari dinas-dinas tersebut untuk membantu.

Mata mereka memancarkan semangat

“Kami tidak mungkin membantu sekolah kalian yang sekolah swasta, sekolah kami saja (baca : sekolah negeri) tidak sanggup kami urus”, itu salah satu jawaban yang didapat pak mansur ketika mengajukan permohonan bantuan gedung.

Kami sempat berdiolog dengan Ibu Guru bahasa Inggris dan Bapak Guru olah raga yang datang, ketika kami menanyakan berapa gaji yang mereka terima, hanya sebuah “senyuman” sebagai jawabannya. Kami menebak mereka ini adalah guru relawan tanpa gaji.

“Kita sedang mengusahakan ada sedikit uang yang kita berikan kepada para guru, setidaknya sebai pengganti biaya transport mereka” jelas Pak Mansur.  Saat ini ada 11 guru yang aktif megajar di Madrasah Ibtidayah Darussalam, menurut pak Mansur dengan ada 11 guru yang membantu sudah cukup efektif, mereka mengajar secara bergiliran sambil mereka mengajar atau bekerja di tempat lain yang memiliki gaji tetap.

Pihak Sekolah sampai saat ini terus berusaha untuk mencari dukungan dari berbagai pihak untuk dapat membantu pembangunan ruang belajar, karena tahun depan sudah akan menerima murid baru lagi, sedangkan ruang kelas belum tersedia.  Saat ini sekolah yang berjumlah murid 30 orang ini hanya memiliki 3 gubuk ruang belajar untuk kelas I, II dan III.

Ketika kami menanyakan mengenai pengelolaan administrasi sekolah, Pak Mansur menjelaskan bahwa tidak ada ruang kantor untuk urusan administrasi, semua arsip disimpan di rumah kepala sekolah, untuk urusan surat-menyurat kepala sekolah pergi ke  Rental Komputer di Kota Kecamatan (Krueng Mane), karena beliau tidak memiliki komputer atau laptop.

Pak Dahlan, Sang Kepala Desa yang turun tangan langsung mengangkat buku BHSB

Setelah berdialog panjang lebar, kami pun menyerahkan buku kepada kepala sekolah, Pak Dahlan sang kepala desa turun tangan langsung membantu mengangkat kardus buku, sungguh kepala desa yang luar biasa.

Setelah penyerahan buku, Pak Dahlan mengucapkan terimakasih kepada BHSB dan Aceh Blogger yang sudah bersedia berbagi rasa dengan Madrasah Ibtidayah Darussalam, kepada para murid kami berpesan untuk tetap semangat belajar walaupun kondisi sekolah seperti ini.

 

 

 

 

Trackbacks (1)

Comments (12)

  1. December 18th, 2012 at 10:25 | #1

    Semoga semakin banyak orang yang tergerak dengan aksi nyata seperti yang dilakukan oleh teman-teman Aceh Blogger ini

  2. Mudasir
    December 18th, 2012 at 10:41 | #2

    masyaAllah, semangat berbagi patut dipuji.. (y)

  3. Mukhlishamid
    December 18th, 2012 at 14:05 | #3

    Saluutttt untuk rekan2 di AB. Semoga saya bisa ikut bergabung dalam kerja2 dahsyat seperti ini pada masa yad. fastabiqulkhairat…

  4. December 19th, 2012 at 02:02 | #4

    mantrap tgk.. semoga dengan adanya bantuan ini bisa menambah ilmu pengetahuan mereka.

  5. December 23rd, 2012 at 06:05 | #5

    Mau nanya, bantuan yang diberikan berupa buku aja? ada bantuan untuk pembangunan gedung ga? kalau mau bantu kemana ya? makasih… bisa balas di emailku.

  6. December 25th, 2012 at 05:06 | #6

    Sungguh pilu rasa-a, negeri yg sudah setengah abad merdeka belum bisa menjamin pendidikan yg lasak #malu rasa-a diri ini

  7. December 28th, 2012 at 01:47 | #7

    Beberapa waktu lalu ada berita mengenai pemotongan subsidi untuk sekolah madrasah, yg pada waktu itu di protes oleh menag SuryaD.A.,
    katanya sekolah madrasah /sekolah islam bernaung langsung depag.
    selain kepada departemen pendidikan, sebaiknya dicoba untuk mengajukan permohonan bantuan ke depag, tentunya aspek legalitas sekolah tersebut juga harus lengkap.
    Jadi ingat bagaimana kisah pada novel laskar pelangi, nanak negri penerus bangsa itu seharusnya juga mendapat kesamaan hak dalam pendidikan.
    OOhhhh Pemerintah

  8. January 23rd, 2013 at 17:12 | #8

    salam BLOGGER dan salam kenal dari blogger asal kota padang, sumatra barat.
    maaf,saya masih Newbie
    yozidahfilputra.blogspot.com

  9. February 2nd, 2013 at 12:13 | #9

    Waksyah, begitulah panggilan bapak tua berumur 60 tahun ini. Dengan nama panjang Syamsah Ahmad, sehari-harinya bekerja sebagai petani. Beliau tinggal di dusun monprei desa Alue Dua, Payah Gajah kecamatan Peureulak Aceh Timur. Desa ini berjarak 4-5 Km dari pasar Peureulak dengan kondisi jalan aspal dan berbatuan. Monprei adalah sebuah dusun dari tiga dusun yang berada di kampung Alue Dua. Kampung ini dulunya merupakan kampung basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dari cerita yang saya dengar daerah ini memang sering terjadi kontak tembak antara TNI dan GAM pada masa konflik dulu.

  10. February 17th, 2013 at 15:10 | #10

    Kapal yang semula didatangkan dari Kalimantan untuk mengisi pasokan listrik itu di tempatkan di pelabuhan Ulee Lheu. Namun terjangan tsunami yang sangat hebat, kapal yang berbobot 3600 ton ikut terseret ke daratan sejauh 4-5 km tepatnya di desa Punge Blang Cut Kecamatan Jaya Baru. Sangatlah mustahil kapal seberat itu bisa bergerak melewati rumah penduduk namun kenyataan seperti itulah yang terjadi. Untuk menariknya kembali ke posisi semula adalah hal yang tidak mungkin dilakukan apalagi di sekitar lokasi sudah berdiri kembali rumah-rumah penduduk.Meski masih ada keberatan penduduk karena tapak rumah mereka tertindih oleh kapal tersebut, namun lokasi paling ramai dikunjungi wisatawan baik lokal, nusantara maupun mancanegara. Terletak di perkampungan penduduk dan untukmencapai lokasi bisa dengan menggunakan labi-labi jurusan Uleee Lheue turun di simpang Punge Blang Cut ata agar lebih mudah menaiki Becak bermotor dengan tarif Rp.25. 000 dari terminal Keudah.

  11. baby
    April 29th, 2013 at 09:19 | #11

    wah yang penting semangat belajarnya :D

    Baby Pink

  12. May 19th, 2013 at 00:14 | #12

    wah…keren nih, inspiratif, semoga semakin sukses dan banyak orang yang tergerak untuk melakukan hal yang sama… :)

Leave a Reply





stack