Batu Asah dari Nisan Indatu

Nisan yang diduga peninggalan kerajaan Samudera Pasai dijadikan batu asah oleh warga

Sudah tidak asing lagi bagi masyarakat untuk memanfaatkan berbagai macam batu untuk mengasah peralatan tajam seperti parang, pisau bahkan pedang.  Bukan hal yang menarik perhatian bila batu kali/sungai sejenis batu pasir digunakan sebagai batu asah, tapi bagaimana  bila batu asah itu diambil batu nisan yang memiliki nilai sejarah ratusan tahun yang lalu ?.

Inilah fenomena yang kami temukan ketika menelesuri jejak peninggalan kerajaan samudera di beberapa desa di kecamatan Gandapura dan Peusangan bersama teman-teman dari Aceh Blogger Community (baca : Jejak Peninggalan Kerajaan Samudra).  Hal yang menarik terutama kami temukan di Desa Samuti Krueng Kecamatan Gandrapura, hampir disetiap sudut desa tersebut bertebaran batu nisan yang masyarakat setempat tidak ada yang tau kapan pastinya kuburan atau nisan-nisan tersebut ada. Nisan-nisan tersebut ada yang berasal dari Batee Krueng (batu sungai/kali) dengan bentuk lonjong, bahkan kami menemukan juga sejumlah batu nisan dengan ukiran yang kami duga kaligrafi Arab dan mirip dengan nisan peninggalan Kerajaan Samudera Pasai di Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara.

Belum ada penelitian oleh para peniliti sejarah maupun pihak pemerintah mengenai situs-situs bersejarah ini. Bahkan warga yang sudah menetap turun temurun disekitar lokasi tersebut juga tidak mengetahui sejarah atau cerita mengenai nisan-nisan tersebut, mereka hanya mengambil kesimpulan bahwa nisan tersebut adalah kuburan “Ureueng Jameun” (orang zaman dahulu) yang tidak perlu diusik dan dipertanyakan.

Tapi sangat disayangkan karena tidak ada pengetahuan tentang sejarah nisan-nisan tersebut, ada sebagian warga yang usil menggunakan batu nisan tersebut untuk batu  asah peralatan tajam,  bukan sekedar batu nisan yang berasal dari batu kali saja bahkan batu nisan yang memiliki ukiran kaligrafi yang menurut dugaan kami berasal dari luar Aceh (mungkin dari Gujarat) juga banyak sudah digunakan sebagai batu asah, walaupun tidak dipindahkan lokasi dan posisinya. Menurut warga mengasah parang di batu nisan tersebut bisa membuat parang sangat tajam karena kualitas batunya sangat bagus karena merupakan batu yang berasal dari batu marmer putih.

harapan kami, ini menjadi perhatian semua pihak, terutama pemerintah daerah setempat untuk sedikit memberi perhatian mengenai situs bersejarah ini, walaupun tidak dilakukan penelitian dan pemugaran secara konprehensif, tetapi setidaknya bisa mengarahkan masyarakat setempat untuk menjaga dan bila perlu membuat pagar sederhana di lokasi-lokasi tersebut.

Pantaskan batu nisan indatu menjadi batu asah ?

 

 

Trackbacks (0)

  1. No trackbacks yet.

Comments (3)

  1. September 16th, 2012 at 23:01 | #1

    Pantas gak yaaaaa????
    :)

    Jelas gak pantas batu nisan dijadikan batu asah….

  2. November 26th, 2012 at 15:05 | #2

    temurun disekitar lokasi tersebut juga tidak mengetahui sejarah atau cerita mengenai nisan-nisan tersebut, mereka hanya mengambil kesimpulan bahwa nisan tersebut adalah kuburan “Ureueng Jameun” (orang zaman dahulu) yang tidak perlu diusik dan dipertanyakan.

  3. March 14th, 2018 at 23:01 | #3

    temurun disekitar lokasi tersebut juga tidak mengetahui sejarah atau cerita mengenai nisan-nisan tersebut,

Leave a Reply





stack