Euforia Kelulusan UN

 

Berbagai Aksi dan Gaya merayakan kelulusan UN di Kota Juang Bireuen
Berbagai Aksi dan Gaya merayakan kelulusan UN

Sore kemarin saya ketika keluar dari kantor, saya dikejutkan oleh suara hinggar binggar kendaraan Sepeda Motor yang berlomba lomba menghentakkan gas dan mengeluarkan bunyi klakson yang memekakkan telinga diringi suara-suara teriakan yang tidak jelas makdsudnya.  Sebenarnya suasana seperti ini bukan hal yang asing lagi di daerah saya (Aceh). Karena provinsi ini baru saja menyelesaikan perhelatan PILKADA yang ketika masa kampanye dipenuhi dengan hiruk pikuk pengerahaan masa dengan konvoi-konvoinya.

Tetapi yang terjadi kemarin sore bukanlah konvoi kampanye partai politik, karena jelas terlihat para massa yang berkonvoi menggunakan seragam putih abu-abu campur batik,  ya….. sangat jelas mereka adalah para siswa SLTA (SMA/SMK /MA).

Saya baru sadar bahwa konvoi massa pada kali ini adalah aksi para siswa-siswa tersebut dalam merayakan kelulusan Ujian Nasional (UN) yang baru saja keluar pengemumannya.  Saya terkenang masa 12 tahun yang silam ketika saya juga menjalani masa yang sangat menegangkan dan mengharukan.

 

Aksi Jalanan Ekpresi Kelulusan UN
Aksi Jalanan Ekpresi Kelulusan UN

Tapi apa  yang saya lihat hari ini berbeda dengan apa yang terjadi pada saat saya bersama teman-teman seangkatan SMA. Aksi yang paling mencolok adalah aksi coret-coret baju seragam sekolah dengan cat pylox da sipidol dengan barbagai tulisan, grafiti dan sebagian tanda tangan sesama teman. Mungkin dulunya di sekolah saya belum ada aksi-aksi coret-coret seperti ini, dikarenakan memang daerah saya itu masih daerah yang kampungan, yang baru beberapa tahun meninggalkan zama primitif (kalau kampung anda pastinya sudah meninggalkan zaman primitif itu pada masa ratusan tahun sebelum Masehi/SM).

Euforia berlebihan juga mungkin dikarenakan karena sistem Ujian Nasional (UN) yang diterapkan sekarang berbeda dengan ujian akhir pasa masa saya dulu yang masih bernama EBTANAS.  Saya tidak mengikuti lagi bagaimana persisnya sistem Ujian Nasional yang diterapkan sekarang, yang pasti UN  ini sudah menjadi momok yang sangat manakutkan bagi para siswa dan juga para guru serta pihak sekolah. Sehingga berbagai cara dilakukan agar bisa lulus dari UN ini.  Kecurangan bukan saja dilakukan oleh para siswa tetapi  juga oleh para guru atau pihak sekolah, mulai dari pembocoran soal… kunci jawaban dan berbagai cara lain.

Kalau gagal UN dunia serasa kiamat, tahun lalu saya sempat membaca berita ada yang sampai bunuh diri. Gagal UN berarti harus kembali mengulang belajar di sekolah. Gagal UN menjadi sebuah hal yang menakutkan, membuat malu bukan saja sang siswa tetapi juga orang tua nya.

Hal inilah yang mungkin membuat Euforia Kelulusan dirayakan dengan berbagai aksi yang sangat-sangat ekpresif, bahkan kadang-kadang sudah menyimpang dan mengganggu ketertiban umum.

Mungkin ini menjadi tanggung jawab semua pihak supaya dapat mengarahkan euforia kelulusan ini ke hal-hal yang lebih tertib dan positif,  seperti aksi coret-coret baju seragam apakah tidak lebih baik diganti dengan aksi amal dengan mengumpulkan baju seragam untuk di sumbangkan ke  adik-adik kelas siswa-siswa kurang mampu atau juga dikrim ke sekolah-sekolah yang membutuhkan perhatian khusus di  daerah-daerah terpencil.

Untuk aksi konvoi di jalanan yang sangat berbahaya yang rentan kecelakaan serta sangat mengganggu ketertiban berlalu-lintas, apakah tidak dapat diarahkan dengan kegiatan-kegiatan pawai yang lebih tertib atau dengan membuat acara pementasan seni budaya…atau apapun lah sehingga tidak terkesan negara ini seperti negara tak bertuan.

Akhirnya apakah kelulusan UN ini harus disambut dengan  euforia yang berlebihan ? bagaimana dengan teman-teman kita  yang tidak lulus ? bagaimana perasaan mereka ? apakah kita tidak peka dengan nasib  mereka ?

Trackbacks (0)

  1. No trackbacks yet.

Comments (1)

  1. January 18th, 2013 at 15:56 | #1

    Aksi coret-coret ini sendiri terlihat dilakukan puluhan siswa di depan sekolah SMK Negeri 1 dan SMK Negeri 2 Kota Bitung. Dan pihak sekolah terkesan membiarkan aksi tersebut, padahal Dikpora sendiri telah mengintruksikan untuk menindak siswa yang melakukan coret-coret seragam.

Leave a Reply





stack