Potret Pendidikan di PSK
Filed under 1 Blogger 1 Buku, 1Blogger 1Dollar, acehblogger, bireun, Blogger Berbagi, Blogger itu orang kaya, Blogging goes to village, demokrasi, EDUCATION, Komunitas, RELIGION

Masih Meggunakan "Black Board" dengan kapur tulis
Selepas menunaikan Shalat Jum’at kemarin di Mesjid Peusangan Kota Matang Geulumpang Dua, Bireuen. Saya bersama dengan 3 sahabat yang lain ; Aulia Fitri, Dr. Muhammad Hanfiah dan Dr. Murhaban (dari Universitas Malikhussaleh) bergerak ke Peusangan Siblah Kreueng (PSK) tepatnya ke Pesantren Nurul Iman yang pernah kami kunjungi sebelumnya pada 28 September 2010 bersama dengan tim ABC (Baca : Ekspedisi ke Peusangan Siblah Krueng) dengan niat silaturrahmi dengan pengurus dan para santri.
Tidak ada perubahan yang kondisi bangunan lembaga pendidikan di desa yang sangat terpencil itu. Dua ruangan belajar semi permanen dengan dinding papan yang tidak menutup seluruhnya dan sebagian di tutup dengan seng bekas.

Inilah ruang belajar, Sudahkan negeri ini merdeka ?
Ruangan belajar beralaskan semen dan dilengkapi kursi kayu bekas dan juga barang langka yang sudah tidak pernah saya lihat lagi setelah meninggalkan Sekolah Dasar sejak 16 tahun yang lalu yaitu papan tulis “black” dengan menggunakan kapur yang ketika menulis dan menghupusnya menebarkan debu putih yang sangat halus yang tentunya sangat tidak sehat bagi pernapasan.
Pesantren yang menyelenggarakan kegiatan Belajar Mengajar Madrasah Tsanawiyah (MTs) saat ini hanya memiliki Santri 25 orang yang sebagian besar duduk di Kelas III MTs dan Kelas II. Sedangkan untuk kelas I tidak ada santri karena pada tahun ajaran yang lalu, pihak pengurus tidak berani menerima santri baru karena dana operasional yang tidak ada sama sekali.

Kami tetap ingin belajar !
Kami sempat berdialog dengan bebera santri putri yang sudah duduk di Kelas III, mereka sangat berharap Pesantren mereka bisa tetap berjalan seperti sekolah-sekolah yang lain. Dan mereka berharap setelah mereka tamat tahun ini Pesantren tersebut dapat menerima santri-santri baru. Menurut mereka Pesantren tersebut harus dipertahankan karena menjadi pilihan bagi anak-anak kurang mampu yang tinggal di desa terpencil yang jauh dari kota kecamatan.
Kami berkesempatan bertemu dengan pengurus yayasan dan tokoh masyarakat desa tersebut. Menurut pengurus bukan tidak ada dana bantuan dari pemerintah untuk operasional sekolah/madrasah. Tetapi karena Pesantren tersebut jauh dari kota kabupaten maka surat yang dikirimkan pihak Dinas pendidikan atau Departemen Agama yang menginformasikan tentang adanya dana bantuan selalu datang terlambat karena dikirimkan secara meraton dari Kabupaten, sehingga ketika mengurus dana bantuan tersebut ke Kabupaten, pihak kabupaten mengatakan proses untuk data tersebut sudah selesai dan tidak bisa dicairkan kembali.

Rak Buku Yang Masih Kosong
Pihak pengurus Yayasan sangat berharap Madrasah tersebut akan terus berjalan dan menerima santri-santri dari keluarga yang tidak mampu. Dengan segala upaya dan usaha mereka mencari dukungan dari para dermawan yang tersentuh hatinya untuk membantu.
Pada kunjungan tahun lalu Aceh Blogger Community menyumbangkan sejumlah buku bacaan untuk Santri-santri Pesantren tersebut, dan tahun ini bertekad menggalang pengumpulan buku dengan tema “1 Blogger 1 Buku”, program ini bukan saja untuk Pesantren Nurul Iman ini tapi juga untuk sekolah-sekolah yang lain.
Tapi apa kah cukup buku yang kita sumbangkan ?
Mari berbagi untuk Pendidikan Aceh!
Mar 18

Maaf Ini Sekolah... Bukan Kandang...!
Euforia Kelulusan UN













- Surya Adhi Kuncoro
- Zian
- baby