KTP Merah Putih

“Tengku masih menyimpan KTP Merah Putih ? bisa ceritakan sedikit tentang KTP Merah Putih ?“. Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang teman dari Bandung beberapa hari yang lalu ketika kami sedang ngobrol di Yahoo Messenger, beliau sedang mengerjakan proyek Penelitian BAPENAS tentang Kartu Tanda Penduduk. Sebenarnya saya tidak ingat lagi dengan KTP Merah Putih dan beberapa KTP Merah Putih yang saya miliki juga sudah saya buang, setelah saya coba bongkar berkas-berkas dokumen akhirnya saya menemukan beberapa KTP, satu diantaranya adalah KTP Merah Putih yang terakhir saya miliki tapi tidak saya pakai. Saya masih ingat sejak diberlakukan KTP Merah Putih di Aceh saya sempat menyandang 3 KTP Merah Putih yang terpaksa saya buat karena tuntutan suasana konflik bersenjata di Aceh.ktpmp21

KTP Merah Putih adalah Kartu Tanda Penduduk yang diberlakukan untuk masyarakat Aceh ketika berlakunya status Darurat Militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. KTP ini dimaksudkan untuk menyisir habis anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Tidak jauh berbeda KTP Merah Putih ini dengan KTP biasa yang memuat indentitas Pemiliknya, tapi sedikit keunikan. Dari segi ukuran KTP Merah Putih dua kali lebih besar dari KTP biasa sehingga harus dilipat dua dan berbentuk seperti buku saku. Dan yang lebih unik bila KTP biasa hanya ditanda-tangani oleh satu pejabat berwenang, KTP Merah Putih ditandatangani oleh tiga pejabat yaitu dari Kepolisian (KAPOLSEK), dari TNI (DANRAMIL) dan Kecamatan (CAMAT)…… unik kan ? satu KTP dikeroyok rame-rame !

Mengurus KTP Merah Putih juga bukan perkara yang mudah, harus melalui proses yang sangat –sangat – sangat…ribeeet…. Bahkan nyawa jadi taruhan !!!….loh kok bisa seperti itu ? ya begitulah kondisi berada di daerah konflik. Kenapa bisa seseram itu ? begini ceritanya ;

Pertama kita harus mengambil Surat Pengantar dan Blangko yang sudah diisi di Kepala Desa, kemudian Blangko KTP Merah Putih beserta Surat pengantar dibawa ke Kantor Polisi setempat (POLSEK), di POLSEK kita harus menunggu antrian yang sangat-sangat panjang. setelah dipanggil kita langsung berhadapan dengan KAPOLSEK untuk di intograsi (…… kita dibuat kayak penjahat)…….. kalau tidak salah ingat ada 10 pertanyaan yang harus kita jawab… mulai dari menyebutkan 5 sila PANCASILA… terus menyanyikan lagu Indonesia Raya….. (kayak mau upacara bendera)… setelah itu baru masuk kepertanyaan intograsi-intograsi…..seperti ; Apa pernah bertemu dengan si Polan ? (maksudnya anggota GAM), Kenal dengan si anu ?, rumahnya dekat gak dengan si A ?, Pernah kasih rokok untuk si anu ?………. kalau saja tidak bisa menjawab dengan manis…siap-siap saja popor senapan akan melayang ke muka kita…tidak kenal siapa saja…mau orang tua….anak muda….. bahkan ibu-ibu yang dicurigai ketika intograsi akan mendapatkan minimal tamparan dari si aparat Kepolisi.ktpmp1

Setelah lolos dari intograsi biadab itu…., nama kita akan diperiksa di Daftar Pencarian Orang (DPO), setidaknya orang yang namanya mirip dengan nama anggota GAM akan mendapat masalah besar. Bila di curigai….berkas kita akan ditahan…tidak sedikit juga yang terpaksa menginap dalam tahanan sampai berminggu-minggu, bahkan ada yang tidak pernah kembali lagi sampai hari ini….!…. Bisa anda bayangkan sendiri kalau sudah ditahan… setiap malam akan terus jadi bulan-bulanan aparat-aparat polisi yang tidak punya rasa kemanusiaan.

Kalau kita dianggap bersih maka KTP akan ditanda-tangan oleh KAPOLSEK. Tapi jangan berbesar hati dulu, karena kita akan menghadap KORAMIL setempat untuk diintograsi tahap kedua dengan model yang sama dan juga diperiksa di DPO. Yang gilanya DPO yang dipegang Kepolisian berbeda dengan DPO yang ada di TNI. Bila lulus baru ditandatangan dan kemudia KTP baru dibawa ke Kecamatan untuk di tandatangan CAMAT dan di stempel, dan sah lah kita menyandang KTP Merah Putih.

Pengalaman saya mengurus KTP Merah Putih Alhamdulillah berjalan lancar. Walaupun nama saya ada di DPO tapi bukan nama asli, hanya nama panggilan orang-orang dikampung saya yang tidak pernah tau nama asli saya, apalagi dari segi tampang dan postur tubuh yang kecil kerempeng, mereka tak mungkin mencurigai saya sebagai pemberontak. Tapi KTP Merah Putih saya yang pertama tidak bisa dipergunakan lama, 2 bulan setelah itu saya pindah lokasi ke Kabupaten lain dan ini sangat berbahaya bila kita berkediaman disuatu daerah dengan KTP Merah Putih daerah lain, banyak kesulitan yang akan kita temui dan untuk mengurus mutasi juga tidak mungkin kita bunuh diri karena kita kembali harus melawati tahap-tahap proses KTP Merah Putih yang mengerikan itu. Saya terpaksa membuat KTP Merah Putih ASPAL…. Blangko KTP Merah Putih yang sudah jadi diberikan oleh seseorang yang kebetulan pemiliknya sudah hijrah ke Negara lain. Bermodalkan uang logam, nama di KTP tersebut berhasil dikikis dan diprint ulang kembali…. (Saya tidak akan melakukan kriminal seperti ini bila tidak terpaksa).

Satu bulan saya memegang KTP Merah Putih ASPAL itu, Alamat di KTP saya dinyatakan sebagai daerah hitam, karena sudah tercium desa tersebut sangat banyak berdiam para gerilyawan GAM. Dan hukum yang ada pada saat itu apabila sudah dinyatakan sebagai daerah hitam oleh TNI maka semua masyarakat yang tinggal di desa itu dinyatakan berkhianat kepada Negara dan harus siap-siap menghadapi resiko. Dengan bermodal KTP Merah Putih Pertama saya berhasil menyebrang keluar Aceh tampa ada pemeriksaan. Tapi satu bulan sebelum Tsunami melanda Aceh, saya menerima kiriman KTP Merah Putih dari seorang teman. Alhamdulillah dengan KTP Merah Putih saya bisa bergerak dengan tenang di Aceh pasca musibah Tsunami.

Sesuai dengan yang tertera di KTP Merah Putih, masa berlakunya adalah bila berakhirnya status Darurat Militer. Tapi walaupun Status Darurat Militer sudah dicabut pada pertengahan 2005, tapi KTP Merah Putih masih berlaku sampai tahun 2006 karena keterlambatan pemerintah mengadakan KTP Nasional untuk masyarakat Aceh.

Itulah sepenggal kisah KTP Merah Putih yang pernah berlaku di Aceh, banyak kenangan manis, pahit dan kadang lucu selama memegang KTP Merah Putih. Bila keluar dari Aceh lewat darat, diperbatasan Aceh-SUMUT aka ada pemeriksaan KTP oleh TNI, dan aparat yang jahil itu tidak menyebut KTP, tapi meminta diperlihatkan PASPOR (KTP Merah Putih) sebagai sindiran bagi orang Aceh yang ingin memisahkan diri dari RI. Kalau saya perlihatkan KTP Merah Putih keteman-teman di luar Aceh juga ada yang menertawakan….KTP kok mirip Buku Nikah…..Semoga tulisan ini menjadi pelajaran yang berharga…. Atau menjadi gambaran bila didaerah teman-teman akan diberlakukan Status Darurat Militer….. siapa tau……? kan persoalan Negera ini belum selesai…..he…he..he.

Trackbacks (0)

  1. No trackbacks yet.

Comments (10)

  1. gusthy
    November 29th, 2009 at 14:53 | #1

    syukur itu semua udah lewat…mari kita bangun Aceh dengan semangat persatuan dan kesatuan hehehe…

    InsyaAllah :)

  2. aribicara
    November 30th, 2009 at 09:17 | #2

    JAdi dulu daerahmu masuk Area Hitam yach ?

    Salam :)
    Untung aja skrg dah aman dan damai yach aceh :)

  3. November 30th, 2009 at 09:53 | #3

    terima kasih teungku…terima kasih sekali untuk kesediaan berbaginya…riset yang dilakukan semoga juga bs bermanfaat untuk kita semua….

  4. November 30th, 2009 at 14:26 | #4

    Waduh susah juga yach berada di daerah konflik. Beruntung sudah berakhir

  5. December 1st, 2009 at 13:46 | #5

    sulit sekali ya untuk dapet ktp aja, moga aceh semakin baik lagi, dan ga ada lagi kekerasan disana ^_^

  6. ping
    December 5th, 2009 at 13:59 | #6

    sekarang udah pake KTP biasa ya bang ?

    iya.. dah diakui sebagai WNI lagi…he..hee

  7. December 6th, 2009 at 21:58 | #7
  8. jeje
    December 22nd, 2009 at 14:10 | #8

    ktpnya udah yang baru

  9. March 10th, 2010 at 20:14 | #9

    that lucu gampong tanyoe……..

  10. April 24th, 2012 at 05:54 | #10

    wah, saya gak kebagian yang merah-putih ..
    dulu sudah keluar dari sana sebelum diberlakukan

Leave a Reply





stack