Derita Putri Pengembala

Bola matanya nanar, menatap dari balik jendela kamar berdiamer 3×3 itu. Di atas dipan yang mengeluarkan bau pesing, gadis yang kaki dan badanya mengecil ini, hidup serba memprihatinkan. Dia hanya bisa membolak-balikan badanya, seolah mengharap iba.

21 tahun lalu, menjelang magrib, Muhammad Dehan, pulang dari mengembala ternak dan memotong rumput. Pria yang kini berusia 64 tahun itu, mendapati Nurjannah, putri pertamanya, kejang-kejang. menjelang siang, rumahnya didatangi petugas kesehatan dan menyuntikkan vaksin tetanus ke tubuh Nurjanah.

“Waktu itu usia Nurjannah masih empat bulan, dia kejang-kejang sampai dua hari dua malam, kami tidak punya biaya membawanya ke dokter,” kata warga Desa Lamtimpeung, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar itu, Selasa, 30 Juni 2009.

Selama itu, Nurjanah tidak pernah mendapatkan bantuan medis. Orang tuanya hanya beberapa kali membawanya berobat kepada dukun kampung. Hasilnya nihil. Nurjanah tidak bisa menikmati masa kecilnya.

“Saya jual tiga ekor lembu untuk mengobati dia, tapi dia tidak juga sembuh, kami tidak punya saudara yang bisa membantu biaya pengobatan dia,” katanya.

Kondisi fisik Nurjannah kian hari kian melemah. Tubuhnya mengecil dan kulitnya melepuh. Di usia 13 tahun, derita keluarga Nurjannah lengkap sudah. Ibunya harus meninggalkan dia dan dua adik laki-lakinya, karena serangan penyakit paru-paru.

“Sejak saat itu saya tidak bisa bekerja lagi. Dia tidak mau makan kalau tidak saya yang suapin, dia tidak mau diurus sama orang lain,” sebut Dehan.

Untuk mengurangi beban keluarga, Dehan terpaksa menitipkan dua putranya kepada adiknya. Sejak tak bekerja, Dehan hanya mencurahkan perhatiannya untuk putri tunggalnya itu. Memandikannya setiap pagi, dan mengatur menu makanan.

Jika Nurjanah lapar, dia hanya memberikan isyarat dengan membuka lebar mulutnya. Dehan yang tak bisa memasak, hanya membeli nasi sebungkus untuk berdua. Kecuali ada tetangga yang berbaik hati menghantarkan makanan, pengembala ini tak perlu sibuk berhutang.

“Saya tidak akan membiarkan dia lapar, yang paling repot kalau dia buang air, karena dia tidak pernah memberi isyarat.”

Nasib keluarga Nurjannah sebenarnya juga telah didengar Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Pertengahan tahun 2005, pekerja lembaga itu membawa Nurjannah untuk berobat di rumah sakit Zainoel Abidin Banda Aceh. Tapi dia tak pernah di diaknosa.

“Selama tiga hari tidak pernah ada dokter yang memeriksa anak saya, tidak tahu penyakitnya apa, akhirnya saya membawa pulang dia,” sebutnya.

Berkat ajuran beberapa orang dikampungnya, Dehan membuat proposal bantuan kepada pemerintah Aceh. Tapi hingga kini dana bantuan, juga belum cair. Dehan berharap ada yang sudi membatu pengobatan putrinya. “Saya tidak punya penghasilan, kalau pemilik lembu menjual lembunya, saya baru dapat sedikit hasil memelihara lembu,” ungkapnya

2 Agustus tahun ini, Nurjannah genap berusia 22 tahun. Di usia yang mulai dewasa, dia hanya bisa terbaring lemah tak berdaya, seakan merenunggi nasibnya sebagai putri pengembala.[]

Foto : Yo Fauzan Ijazah

Tulisan : Riza Nasser

Kami dari redaksi Acehkita.com membuka dompet peduli untuk membantu Nurjannah.

Bagi anda yang ingin menyalurkan bantuan bisa melalui rekening kami di:


8040020145

PERMATA BANK CABANG ACEH

a.n. Daspriani Y. Zamzami…


Baca Selengkapnya : AcehKita

Jangan lupa kabari kami setelah menyumbang, melalui:


+628126968257

+628126964923

e-mail:
redaksi@acehkita.com

Trackbacks (0)

  1. No trackbacks yet.

Comments (2)

  1. July 3rd, 2009 at 16:33 | #1

    mari berbagi

  2. September 6th, 2012 at 22:55 | #2

    ulasan yang mantab .kapan-kapan main lagi deh, tp semgoa nggak pake acara kesasar segala.btw, kenapa foto gw disini malah kayak orang gila ya :) cemungudz cemua . :)

Leave a Reply





stack