Tullah, Mahkamah & Tunah

Adat menurut masyarakat  Aceh ada tiga bagian :

  1. Adat Tullah,  ialah aturan dan ketentuan yang berdasarkan kitabullan (Al-Qur’an). Adat Tullah tidak boleh dirubah-rubah, dan harus disyi’arkan dalam masyarakat.
  2. Adat Mahkamah, ialah aturan dan ketentuan yang dibuat Mahkamah Rakyat atau diputuskan  oleh pemerintahan yang resmi.
  3. Adat tunah, ialah adat yang tumbuh dan berkembang dalam msyarakat, dan harus sesuai dengan Adat Tullah dan Adat Mahkamah. Apabila Adat Tunah tersebut tidak sesuai dengan Adat Tullah dan Adat Mahkamah, maka adat itu tersebut tidak boleh dijadikan adat (tidak sah)

Sebagai ilustrasi untuk mengambarkan ke tiga adat ini kita ambil contoh Proses pernikahan (perkawinan) dalam masyarakat Aceh, karena dalam hal ini sudah tercakup ketiga unsur adat diatas ;
Adat Tullah adalah ketentuan menurut hukum Islam. Diantaranya ada pengantin laki-laki dan wanita, adanya wali untuk menikahkan, adanya saksi nikah, ijab Kabul, dan mas kawin (mahar) dan lainnya.


Adat Mahkamah
, adalah terpenuhinya persyaratan administrasi, surat dari Keuchik (kepala desa), pendaftaran di kantor Urusan Agama. Serta mendapatkan Surat Nikah.


Adat tunah
adalah meminang, seulangkèe, meuduek bilèk, meuduek imum, meugaca, manoe pucôk, perhelatan pesta, peunuwo tujôh, intat lintoe, tueng dara baroe, dan lain lain.

Trackbacks (0)

  1. No trackbacks yet.

Comments (1)

  1. March 5th, 2009 at 10:49 | #1

    nyan baroe ta teupu, meuhan cit hana ta teupu sapu tanyoe inoe

Leave a Reply





stack