Islam Aceh Vs Islam Jawa

Tulisan ini bukanlah bermaksud untuk menimbulkan kontraversi, mencari sensasi atau provokasi Aceh dengan Jawa. Dan tulisan ini juga tidak bermaksud menggores kembali luka ketidak harmonisan sebagian bangsa Aceh dengan bangsa Jawa yang pada saat ini suduh mulai sembuh. Tapi tulisan ini hanyalah sebuah review perkembangan sejarah masuknya Islam di Nusantara yang di mulai dari Perlak dan Pasei(Aceh) hingga berkembang maju di negeri Jawa dan Asia Tenggara .

Kedudukan manusia dan kebudayaan di bumi Aceh senantiasa menyatu antara satu dengan lainnya. Sebelum Islam datang ke Aceh, orang-orang Aceh dengan baiknya tunduk dan patuh kepada ajaran agama Hindu dan Budha yang menjadi kepercayaan mereka. Sebaliknya setelah Islam dating sampai ke hari ini seratus persen bangsa Aceh menerimanya dan mengamalkan dalam kehidupan mereka secara sempurna sehingga susah mau dipisahkan antara Aceh dengan Islam, demikian menyatunya Islam dengan Aceh dan bangsanya.

Penyatuan ini disifatkan oleh para pakar sejarah Aceh sebagai sesuatu yang tidak mungkin dipisahkan di antara keduanya. Karena keadaan yang demikian dekat maka mereka menukilkannya sebagai hokum Islam di satu sisi dan adat Aceh di sisilain, keduanya senantiasa menyatu dan tak boleh dipisahkan sampai kapan pun. Hadih Maja (pepatah Aceh yang mengandung makna hukum) mengisyaratkan suasana ini sebagai Hukôm ngön adat lagèè zat ngön sifeute (hukum dengan adat seperti zat dengan sifat)

Sebagaimana kita ketahui bahwa Islam pertama bertapak adalah di Perlak (sekarang Peureulak) Aceh Timur. Dari sinilah Islam dan kebudayaan Islam itu bermula serta menyebar ke seluruh tanah melayu dengan berbagai aktivitas yang dijalankan ummatnya. Masyarakat Aceh pada masa itu dengan mudah sahaja dapat menerima dan menyatu dengan Islam serta budaya yang dibawa Islam itu sendiri. Keadaan ini sangatlah berbeda dengan kondisi dan situasi masyarakat pulau Jawa yang lebih memilih Hindu dan lari ke pulau Bali ketika Islam dibawa Falatehan dari Pasai ke sana. Sampai sekarang keadaan orang jawa masih sangat terikat dengan kebudayaan Hindu dan Jawanya. Inilah yang membuat seorang perwira muda Republik Islam Aceh (RIA) S.S Djuangga Batubara menyayangkan :”Adalah sangat menyedihkan kiranya bagi orang Islam Jawa, ikatan darah Jawa lebih kental daripada ikatan Islam”. Apabila berhadapan antara Islam dengan Jawa, mereka tetap memilih Jawa dan meninggalkan Islam, seperti kasus penerimaan azas tunggal Pancasila sebagai pengganti Islam di masa Orde Baru pimpinan Soeharto. Penolakan B.J. Habibie yang bukan Jawa yang terkenal dekat dengan Islam coba maju untuk menjadi Presiden RI ketiga, maka ramai-ramai orang Jawa mengganjalnya dengan menolak pertanggung jawabannya sebagai presiden pengganti Soeharto. Sebaliknya orang-orang Jawa tersebut berlomba-lomba mempersiapkan Abdurrahman Wahid yang sekuler dan plin plan lagi buta menjadi presiden RI keempat. Selanjutnya ketika berhadapan antara Hamzah Haz dengan Megawati Soekarnoputri dalam rangka merebut kursi wakil presiden, maka semua orang Jawa di MPR termasuk Amin Rais menggalang kekuatan untuk memilih Megawati dan membiarkan Hamzah Haz karena Mega orang Jawa dah Hamzah orang Kalimantan. Dan terakhir Golkarnya Jawa lebih ikhlas memperjuangkan Sosilo Bambang Yudoyono yang Partai Demokrat sebagai Presiden dengan menempatkan Yusuf Kalla sebagai Wapres karena bukan Jawa walaupun GOLKAR. Kondisi seumpama ini masih banyak terjadi dalam persoalan dan tempat yang berbeda.

Kondisi serupa juga dapat dilihat ketika tokoh Idealis Islam Prof dr. Deliar Noer mengajak tokoh veteran Nahdhatul Ulama (NU), K.H.Masyku untuk tetap bertahan dengan azas Islam dan menolak azas tunggal Pancasila sebagai dasar organisasi itu dalam era Orde Baru pimpinan Soeharto. Pada masa itu sang Kiai menjawab : “hanya kamu sahaja yang Nampak idealis di Negara yang serba Pancasila ini”. Lain pula dengan tanggapan A.R Fachruddin yang memimpin Muhammadiyah waktu itu, ketika sang professor mengajaknya untuk bertahan dengan Azas Islam, setelah kehabisan cara dan hujjah untuk menolaknya dengan ucapan yang sangat tulus menjawab : “saya ini kan orang Jawa professor ”, sangat susah untuk menolak ajakan pemimpin Jawa. Para pakar poltik menafsirkan bahwa bagi orang Jawa ungkapan ini bermakna ; apabila berhadapan Islam dengan Jawa maka mereka akan memilih Jawa dan meninggalkan Islam.

Dengan keadaan seperti itu maka tidaklah mengherankan kita kalau ada orang yang berkesimpulan, persoalan kemajuan dan idealism Islam tidak mungkin ada di Jawa dan tidak bias kita harapkan pada orang-orang Jawa. Mereka yang berkesimpulan demikian mangaitkan kesimpulannya itu kepada adat dan budaya hidup orang-orang Jawa baik di Jawa, di luar Jawa maupun luar negeri. Persoalan tidur satu rumah yang tidak punya kamar oleh dua sampai tiga pasang keluarga menjadi perihal biasa kepeda mereka sehingga bias saling melihat dalam setiap aksi dan kegiatan. Mandi satu tempat yang bercampur laki dan perempuan tampa busana yang memadai sudah lumrah dan menjadi budayanya mereka. Mandi dan buang air secara beramai-ramai di sungai dan tempat-tempat terbuka lainnya bukan hal yang aneh bagi mereka. Sehingga demikian maka patutlah kita simak pepatah Aceh yang menyebutkan : “Meunyö kon droe mandum gob, meunyö kon ie mandum luhob dan meunyo kon pageue mandum jeuneurob”(kalau bukan diri semua orang. Kalau bukan air semua lumpur dan kalau bukan pagar semua tiang). Untuk itu orang Aceh berkesimpulan : “Bu bit, ie bit, ma droe, du droe, biek droe dan nanggroe droe”.

Trackbacks (0)

  1. No trackbacks yet.

Comments (13)

  1. Dildaar
    February 5th, 2009 at 17:54 | #1

    Assalaamu ‘alaikum
    kasar sekali komentar anda. Penuh kebencian dan prasangka. Pantas dihukum Tuhan dengan bencana. Sucikan hati. Bersihkan diri.
    Sy orang jawa tidak merasa biasa mandi dan buang air bersama-sama.

    Wa’alaikumsalam.
    dari awal saya sudah mengatakan tidak menghina Jawa, saya hanya mereview berdasar history dan kebudayaan, mohon maaf bila anda harus tersinggung

  2. Myjall
    May 24th, 2009 at 13:28 | #2

    Terimoeng genaseh…

  3. dildaar
    October 6th, 2009 at 11:12 | #3

    Berdasarkan histori dan kebudayaan, memang diakui pengaruh Islam tidak 100 persen melingkupi hati dan adat orang Jawa karena para wali dan ulama penyebar islam sedang sibuk berdakwah tiba-tiba dari Barat datang penjelajah Eropa.Ini tentu berbeda dengan Aceh yang dekat dengan perairan dimana para pedagang, ulama atau petualang asal Timur Tengah melakukan kunjungan.Di kalangan Muslim Jawa sendiri ada kesibukan politik yang mengurangi aktivitas dakwah.

    Namun demikian bukan berarti, falsafah moral atau akhlak yang dianut sebelum memeluk Islam sama sekali barbar dan salah. Ada juga hikmah di dalamnya.

    Dengan pengaruh Islam yang ‘pas-pasan’, kebiasaan mandi telanjang, tidur bersama-sama dalam satu ruangan dan buang air bersama-sama tentu tidak terjadi di kalangan yang sudah mengerti Islam termasuk keluarga saya. Jadi anda jangan menggeneralisir seolah-olah kalau jawa pasti tidak Islami.

    Sekarang katakanlah oleh anda bahwa rakyat lebih Islami. Mohon ditunjukkan buktinya sekarang..ajaran2 Islam bagaimana penerapannya di sana. Dua saja, masalah solat dan puasa bagaimana?

    Melihat dari histori/sejarah saya belum pernah membaca umat/rakyat yang dicintai Allah diluluhlantakkan oleh Tsunami sebesar tahun 2004. Allah berfirman yang terjemahannya sbb: “Dan Tuhan engkau sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara aniaya sedang penduduknya berbuat kebaikan” {Hud, 11 : 187}.

    artinya, Tuhan takkan berbuat jahat/zalim dengan membinasakan sedemikian banyak orang tanpa sebab atau yang dibinasakan merupakan orang-orang yang secara mayoritas masuk dalam kategori baik2 atau sholeh.

    Katakanlah secara lahir anda dan rakyat Aceh lebih Islam dibanding kami, tetapi jangan lupa Islam itu harus lahir batin bukan lahir saja. penampakan luar saleh dan Islami tapi hati penuh ketakaburan. Ada berhala patung tetapi ada berhala yang lebih halus lagi yakni hawa nafsu. Kelebihan keislaman anda seharusnya menimbulkan rasa kasih dan gejolak dakwah tidak mengenal lelah bukan ketakaburan, langsung memvonis dan putus harapan.

    Teman2 dari luar jawa dan merasa lebih Islami serta menganggap orang jawa kurang Islamnya ya silakan berjuang menurut cara masing-masing. Orang jawa itu tdk penting dan tidak perlu diandalkan..cuma 45 persen penduduk RI.

    Perlu diingat bahwa di negara2 Muslim sekuler malah lebih parah lagi contoh Turki, Suriah, Irak dll..mereka terang-terangan menolak Islam sbg konstitusi negara. intinya memilih falsafah pancasila/sekuler tdk org jawa saja. Lagi pula tidak semua sistem sekuler itu anti/bertentangan dengan Islam. sebaliknya, sistem yang dinamai Islam ternyata bisa jadi bertentngan dengan islam.

    salam damai,

    Dildaar

  4. agung
    December 25th, 2009 at 14:27 | #4

    aneh… sama sama islam koq ribut???? ngomong2 soal asas pancasila???? ya iyalah ini indonesia bro. bukan arab.bhineka tunggal ika.kalo mau asas islam di pake di sini aku yakin RI akan makin sempit karena banyak daerah yang nggak islam akan keluar.btw aq mau tau asas islam kalo diterapin kayak apa???

  5. April 23rd, 2010 at 14:21 | #5

    Mau islam jawa mau islam aceh sama saja, sama-sama biadab, bengis, tidak berkemanusiaan. Islam ya tetap islam, masuk ke lumpur ya islam, masuk ke parit ya islam, masuk ke sawah ya islam. Islam adalah gerombolan manusia yang diciptakan untuk merusak peradaban manusia. Mahluk mengerikan yang haus darah bernama allah, khayalan sang nabi phedopil muhammad ternyata sumber bencana kemanusiaan sepanjang sejarah modern. Banggakah anda menjadi muslim ?

  6. Kekasih
    January 14th, 2011 at 17:15 | #6

    Mengapa Memilih Jawa…?
    Mungkin sesuai adat jawa dikenal dengan gotong-royong, rembugan (musyawarah), saling asah-asih-asuh, pesan moral ajining diri gumantung soko lathi (tingkahlaku seseorang yang baik adalah cermin kebaikan dalam dirinya) dan pesan kyai pada santrinya “saudaramu adalah yang serumah, tetanggamu, dan yang ada di seberang” beliau mengatakan saudara yg diseberang adalah saudara yang berbeda agama tapi dalam hubungan antar manusia (hablumminannas) saling membantu dan tolong menolong).
    kaum yang suka menghina, merendahkan, menghasut, memecah belah adalah kaum penjajah.

    “maaf, saya hidup di jawa sudah cukup lama tapi tentang budaya yang saudara maksud (artikel) di atas belum pernah saya temui dan yang saya kenal di lingkungan saya kalau saya berjabat tangan dengan perempuan adalah kata-kata “aja dudu muhrime” (jangan.. bukan mahromnya)”

    Insya Allah bencana akan banyak menimpa pada suatu kaum yang jauh dari Rahmat Allah.

  7. Insan
    January 14th, 2011 at 17:17 | #7

    Mengapa Memilih Jawa…?
    Mungkin sesuai adat jawa dikenal dengan gotong-royong, rembugan (musyawarah), saling asah-asih-asuh, pesan moral ajining diri gumantung soko lathi (tingkahlaku seseorang yang baik adalah cermin kebaikan dalam dirinya) dan pesan kyai pada santrinya “saudaramu adalah yang serumah, tetanggamu, dan yang ada di seberang” beliau mengatakan saudara yg diseberang adalah saudara yang berbeda agama tapi dalam hubungan antar manusia (hablumminannas) saling membantu dan tolong menolong).
    kaum yang suka menghina, merendahkan, menghasut, memecah belah adalah kaum penjajah.

  8. Insan
    January 14th, 2011 at 17:31 | #8

    Maaf, saya sudah kurang lebih 5 tahun hidup di jawa tapi belum pernah mendengar/melihat prilaku fitnah yang saudara (artikel) tulis di atas dan alhamdulillah yang pernah saya dengar ketika saya berjabat tangan dengan laki-laki ada yang menegur “aja.. dudu muhrime” (jangan.. bukan mahromnya) ini menunjukkan betapa adab dan etika masih berlaku di jawa menghormati kaum wanita dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama.
    Insya Allah bencana hanya akan menimpa pada sekelompok orang yang suka membuat kerusakan di bumi Allah ini, mereka yang suka merusak aqidah, syari’ah dan merusak akhlak.

    aku berlindung pada-Mu yaa Allah dari kaum Fitnah dan pembuat kerusakan. aamiiin

  9. March 20th, 2012 at 23:50 | #9

    Dari link blog seorang teman saya bisa pasmai kesini, angingmammiri. Tdk kusangka ada komunitas blogger yang telah terorganisir bagus seperti ini. Salut.Saya sendiri mengenal dunia internet sejak duduk dibangku kuliah, tp yg lebih menarik minatku adl komunikasi instan melalui mirc. Selain bisa mdpt teman dumay juga bisa kopdar.Ada juga sih bbrapa kejadian buruk dari kopdar seperti dlm tipi, tp yg tpenting adl musti waspada dan bhati2 bila ingin temu darat dgn seseorg.Tetap semangat ngeblog ;)

  10. March 21st, 2012 at 01:58 | #10

    Nawala memang keren salut buat ddgenekotnya nawala saya salah satu pengguna BB memang merasakan kelambatan klau saya melakukan browsing dari bb.. oh iya, buat pak PiwinG apakah hopnya tidak bisa dikurangi lagi atau hop2nya hanya sekitaran link IXX saja??? solanya klau muter2 keluar gitu kan lambat pak.. maaf klau sudah sok tahu.. hihihihi :D *saya dukung nawala untuk selamatkan generasi muda..**

  11. June 29th, 2012 at 03:19 | #11

    kawe tok pehela nga sek mung ni.dudok serelong pon buleh nok baloh peka lagi.

  12. June 29th, 2012 at 03:26 | #12

    kami disini sentiasa menyokong perjuangan menegakkan Islam tidak kira di acheh ko,atau di jawa.yang buruk dijadikan sempadan dan yang baik dijadikan tauladan..
    (PATANI MERDEKA!!!INSHAALLAH)

  13. August 8th, 2012 at 11:09 | #13

    saat saia mencari sesuatu, saya mendapatkan blog post tentang Arakata Nanggroe || Merangkai Kata Mencari Makna » Islam Aceh Vs Islam Jawa dari hasil. terima kasih telah berbagi, thanks ya :) salam kenal :)

Leave a Reply





stack